Financial Planning versi Alya

Dulu waktu masih PDKT sama Bojo, suatu ketika saya ditanya sesuatu yang cukup bikin gelagapan.

https://aaraitum.files.wordpress.com/2021/09/photo_2021-09-30_16-22-25.jpg?w=1024

Saya yang masih berjiwa muda, YOLO, nothing to lose, dan there’s always tomorrow pada saat itu tentu saja kaget dapat pertanyaan kaya gini. Rasanya kaget tiba-tiba ditodong pertanyaan serius tanpa prolog tanpa preambule begini, sebelumnya juga ngga ada aba-aba mau diskusi serius, padahal saya anaknya basa basi sekali. Waktu itu jawabnya merendah untuk meroket dong tentu saja, harus terlihat seperti gelas kosong, jangan sombong, gitu mikirnya. Padahal mah namanya PDKT kan harus apa adanya ya, apalagi soal isi kepala yang krusial kaya gini.

Waktu itu sudah suudzon, apakah saya akan dijudge based on how I managed my money? Apakah saya sedang dinilai kelayakannya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius? Aduh nanti kelihatan bego karena ngga paham fundamental sama teknikal saham gimana? Dst dst… Ya padahal mah bener ya. Bahasan uang yang dianggap orang-orang tabu itu memang harus dibahas banget sebelum sepakat untuk bersama. Sesimpel manajerial uang, transparansi gaji masing-masing, punya hutang atau tanggungan tidak, ada potensi jadi sandwich generation ngga, sebelum nanti akhirnya menyesal di kemudian hari karena ngga ada diskusi soal uang ini. Uang adalah secuplik bahasan yang wajibuuuuun ditanyakan ke calon pasangan, kaya kata Teh Ica ini.

Sebetulnya pengetahuan saya tentang basic financial planning tidak nol nol amat. Dulu waktu kuliah karena follow Jouska dan jamaah Annisast, jadinya saya melek-melek sedikit tentang uang dan pengaturannya. Saya tahu kalau ada pos pos keuangan yang harus diisi, mulai dari dana darurat, biaya hidup sehari-hari, investasi, dan porsi hutang yang maksimal 30% pemasukan. Saya punya rekening investasi, sudah pernah investasi saham, pernah menabung di reksadana, pernah beli sukuk. Tapi itu semua dilakukan ketika saya masih kuliah hehehehe.

Setelah kerja lalu punya uang sendiri, apalagi setelah pindah ke Singapore dan gaji yang saya terima berupa lembaran-lembaran cash, saya jadi sering mabal. Ngga pernah nabung, ngga pernah investasi, boro-boro masukin ke pos-pos keuangan ya. Pokoknya apa yang ada di dompet dipakai aja, kalau habis ya tinggal tunggu akhir bulan. Akhirnya waktu pulang ke Indonesia ngga punya sepeserpun uang rupiah. Ya gimana kalau yang masuk dompet SGD semua dan sengaja ngga buka account bank di sana biar ngga kebetahan(?) Apalagi semua uang tabungan rupiah di rekening bank juga sudah dicairkan jadi SGD untuk modal bertahan hidup satu bulan pertama di sana. Punya uang tapi berasa miskin waktu itu. Yang bisa dilakuin cuma nunggu tanggal gajian di Indonesia dan mulai dari nol lagi kaya kalau isi bensin di Pertamina.

Ngga lama setelah balik ke Indonesia, saya di-PDKT-in Bojo yang kemudian muncul pertanyaan di atas. Setelah itu mulai pelan-pelan balik aware lagi soal perduitan.

Sejujurnya, waktu jadi mahasiswa saya bukan yang dikasih banyak uang sakunya. Jadi harus bener-bener telaten dan teliti mengatur uang uang cuma secuplik dikirim setiap awal bulan supaya sampai akhir bulan saya masih bisa makan dengan nyaman (dalam artian ngga perlu mie instan mulu untuk menghemat). Caranya adalah untuk mencatat seeeemua pemasukan dan pengeluaran, tiap peser rupiah yang saya punya perginya kemana, masuknya dari mana, ke rekening yang mana, atau cash yang mana, siapa yang berhutang atau kalau tidak sengaja berhutang ke teman karena joinan delivery makan. Saya catat semuanya pakai aplikasi yang namanya Money Manager.

Itu screenshot pengeluaran saya jaman saya masih kuliah (tapi budgetingnya udah pakai acuan sekarang sih).

Saya tipe yang suka download macem-macem aplikasi yang fungsinya sama, lalu coba pakai dan membandingkan mana yang paling nyaman untuk saya pakai. Ada beberapa aplikasi yang pernah saya coba, di antaranya Money Lover, Monefy, Money Manager yang gambar babi kuning, Wallet, dan tentu saja Money Manager ini. Semuanya tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi menurut saya yang bisa mengakomodasi kebutuhan expenses tracker saya ya yang Money Manager celengan babi merah ini. Saya sampai beli premiumnya sejak pindah ke IOS, sekalian karena bisa dibuka di PC. Mungkin kekurangannya yang paaaling saya harap-harapkan untuk segera diaplikasikan sama developer Money Manager adalah supaya bisa multi-account. Niatnya supaya Bojo bisa ikut isi sendiri tiap dia ngeluarin uang dan dia juga bisa ngecek sampai mana pengeluaran keluarga. Untungnya sekarang masih pandemi ditambah saya lagi hamil tua, jadi kemana-mana kami selalu bersama (ciaaat). Jadi saya tau dia ngeluarin uang berapa aja untuk apa aja. Paling kalau dia habis keluar sendiri, malamnya saya tanya detail uang yang dipakai untuk apa aja. Sayang sekali Money Lover, saya bahkan sudah tanyakan ke developernya soal enhancement itu, mereka bilang ditunggu aja. Ditunggu sampai ngga tau kapan tapi.

Jadi gimana saya manage uang?

Seperti yang banyak financial planner, akun-akun finansial di Instagram, atau yang orang-orang sering bilang, saya bagi uang saya ke pos-pos tertentu. Karena saya menteri keuangan sekaligus kasir, jadi seluruh pemasukan kami ngumpulnya di saya. Gaji saya dan Bojo disatukan, lalu dibagi-bagi ke beberapa rekening.

Awalnya semua gaji masuk ke “rekening penampungan”, di sini saya pakai Main Pocketnya Bank Jago supaya bagi-bagi ke rekening lain bisa free of transfer fee. Kapan-kapan bakal saya bahas gimana asiknya Bank Jago heuhehehe. Nah lanjut, uangnya disisihin untuk uang saku saya dan Bojo dengan nominal yang sama. Uang saku ini bebas mau kita pakai untuk apa aja dan ngga perlu laporan satu sama lain. Jadi bisa dipakai semisal Bojo mau kasih hadiah surprise (ngarep sih), atau kalau mau beli gadget mahal keinginan dia, atau biasanya saya suka pakai untuk beli stationary mahal hahahaha. Mau dipakai boleeh, mau disimpan juga boleh. Dengan musti nabung pakai uang saku kita masing-masing, harapannya jadi punya lebih banyak waktu untuk mikir sebelum beli sesuatu yang mahal. Jadi kami ngga impulsif gitu. Selain itu, uang saku ini juga sekaligus jadi uang pegangan kami semisal butuh sesuatu yang urgent untuk keluarga, nanti bisa direimburse deh pakai uang operasional.

First thing first sebelum bagi-bagi ke pos belanja dan lain-lain adalah bayar zakat penghasilan 2.5% supaya harta kita bersih. Saya ngga pakai minimum-minimuman sih, pokoknya semua penghasilan yang masuk ya harus keluar 2.5% nya berapapun penghasilannya. Biar lebih tenang aja di hati. Selain itu saya juga bayar semua monthly bills yang memang pasti keluar setiap bulannya, kaya air, listrik, keamanan, iuran warga, internet, dan telepon.

Kalau kewajiban yang fardu ‘ain sudah selesai, saatnya bagi-bagi ke pos yang mandatory atau fardu kifayah. Di sini yang waaaajib banget saya sisihin adalah dana darurat. Sebenernya dulu waktu hidup berdua sudah kekumpul, tapi sebentar lagi bakal jadi berempat (plus Kiwi dan Obong) dan saya tipe yang sedia payung+jas hujan+jaket waterproof+kresek kuat supaya ngga basah setetes pun alias anaknya parnoan, jadi saya targetin dana daruratnya ambil yang maksimum, 3 kali pengeluaran bulanan untuk masing-masing kepala alias 12 kali pengeluaran. Saya kumpulin dulu uangnya di rekening bank, lalu begitu sudah mencapai nominal tertentu, baru dipindah ke RDPU. Tapi tentu aja saya juga punya dana darurat cair di salah satu rekening yang bisa diambil sewaktu-waktu. Karena mencairkan uang dari RD tentu makan waktu beberapa hari kerja.

Sama dengan tabungan jangka pendek. Ada beberapa yang saya masukkan pos ini, kaya uang kontrakan (karena bayar kontrakan setiap tahun kan), terus tabungan daycare (karena saya dan Bojo full-time kerja dan tanpa ART sejauh ini), dan beberapa tabungan yang nantinya bakal lanjut ke reksadana. Rata-rata target di pos ini sekitar 3-5 tahunan. Sedangkan tabungan jangka pendek ini saya kumpulkan dulu untuk dibelikan saham ketika harganya turun. Bagian ini Bojo yang handle sih, karena dia lebih paham gimana fundamental dan teknikalnya saham. Jadi selama belum waktunya beli, ya uang tabungan jangka panjang ini bakal mengendap di rekening saya.

Kalau semua pos dan tabungan itu sudah terpenuhi, tapi masih ada sisa uang (karena kadang saya dapat uang lemburan atau reimburse dari kantor), dimasukkanlah ke “Uang Hati-Hati”. Sebenernya ini cuma uang pegangan aja sih, karena suka tiba-tiba ada pengeluaran besar yang mendadak tapi ngga terlalu darurat. Kaya kemarin waktu kami impulsif pulang ke Brebes tapi nyewa mobil, atau waktu beli Obong, atau waktu beli perlengkapan bayi. Uang ini beda sama uang operasional, jadi ngga bisa dipakai jajan sembarangan. Kalau sudah menumpuk, nanti saya bagi-bagi ke pos-pos investasi lain. Itung-itung uang bonus.

Oh ya yang ngga kalah penting adalah pisahin pengeluaran bulanan dan pengeluaran tahunan.

Dan tadi lupa, ngomongin soal kebersihan harta, jangan lupa bersihin rekening-rekening kita dari bunga bank (interest). Biasanya saya hitung dari semua rekening yang saya dan Bojo punya, lalu dikeluarkan. Cara ngeluarkannya biasa aja kok, bisa dititip ke masjid, sumbangan KitaBisa, atau apapun asal niatnya membuang riba atau harta yang haram. Biasanya saya kumpulkan sampai nominalnya cukup besar terus dititip ke mentor saya yang sering punya kegiatan sosial.

Lanjut ngomongin pos-pos rekening, saya pakai beberapa rekening dan aplikasi supaya uangnya ngga bercampur dan jadi bias. Untuk rekening saya punya TMWR dari UOB untuk terima gaji, Jenius untuk kartu belanja gesek plus tarik tunai, Bank Mandiri untuk dana darurat yang cair, Bank BNI untuk tabungan dan bayar UKT, plus Bank Jago favorit saya untuk operasional dan beberapa pocketnya jadi tabungan dan penampungan uang sebelum lanjut diinvestasikan pakai Bibit dan Ipot. Mungkin review masing-masing bank itu bakal saya bahas di lain postingan ya, karena yang ini sudah cukup panjang.

Nah selain dicatat dengan teliti dan rapi lalu dibagi-bagi ke pos-posnya setiap bulannya, di akhir bulan saya selalu bikin report keuangan satu bulan terakhir dan introspeksi sama Bojo, apa-apa yang kelepasan, apa-apa yang kita hebat banget bisa berhemat. Ngga usah susah-susah pakai aplikasi, saya pakai Google Sheet biasa. Ide dan raw sheetnya dapat dari kelas Financial Planningnya Teh Ica, lalu saya kembangin untuk jadi monitoring cashflownya. Bentuknya kaya gini.

Kalau mau dapat sheetnya, ikut kelas Teh Ica aja hehehehe. Kelasnya berbayar jadi saya ngga bisa sembarangan bagi sheetnya. Dan sheetnya juga bebas diubah sesuai kebutuhan kok. Waktu bikin ini saya cari wangsit dulu seminggu, edit sana edit sini biar sesuai sama kondisi keluarga.

Jadi dengan menerapkan financial planning ini apakah saya sudah kaya?

Ya ngga.

Tapi aamiin ya. Otw sana.

Nyatanya, ngelakuin ini bikin setiap bulan hati saya tenang dan berbunga-bunga lihat nominal di akun-akun saya. Ternyata makin tua saya lebih suka lihat nominal tabungan dan return rate investasi naik daripada belanja-belanja hehehe. Apakah ini yang dinamakan menua?

Yang dirasakan dari ribet-ribet bikin financial planning ini adalah, saya jadi ngga pernah khawatir untuk ngapa-ngapainnya. Ke dokter ya ada uangnya. Stres dan suntuk banget pingin jalan-jalan, ya ada juga uangnya. Tiba-tiba kena musibah (naudzubillah amit-amit), ya insyaAllah juga sudah persiapan uangnya. Saya ngga perlu mikir sampai masuk mimpi besok bayar makan pakai apa saking ketar-ketirnya ngga punya uang. Kalau bingung besok mau makan apa, scroll grab, shopee, dan gojek lama mah udah biasa. Pokoknya ketenangan dari segi material sudah saya dapatkan, walaupun bukan yang turah-turah bisa hedon sembarangan kaya Sisca Kohl gitu ya. Setidaknya satu hal yang bikin stres berkurang, walaupun cita-cita saya masih tetap sama: kaya.

Mungkin gitu aja sharing financial planning yang super panjang ini. Kalau ada ilmu-ilmu peruangan ini atau cara-cara cepat kaya, boleh dong bagi ya hehehe.

Bhay!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s